Hari ini : Sabtu, 24 Agustus 2019

NEWS

FKY 2019 Tampilkan Karya -PANGGIH di Museum Monumen Diponegoro Yogyakarta

Yogyakarta, 16 Juli 2019. - Karya-karya dari beberapa seniman lintas disiplin disuguhkan bersama-sama dalam sebuah program Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY 2019) yang bertajuk “PANGGIH”, di Museum Monumen Diponegoro, Tegalrejo, Yogyakarta, Senin (15/07). Karya tersebut merupakan hasil kolaborasi dari perancang busana Nita Azhar dengan penari Anter Asmorotedjo dan Anterdans. Selain itu, ada penampilan solo musik oleh Umar Haen, aktivitas performatif dinner/live cooking oleh Dapoer Bergerak, serta narasi dari Andi Sri Wahyudi (Andy eswe)

Dimulai sekitar pukul 19:40 WIB, program “PANGGIH” ini diusung dengan membangun ruang dialog antara dua elemen budaya dalam tradisi masyarakat Jawa. Elemen pertama adalah seputar peran busana sebagai salah satu perwujudan identitas kolektif sebuah masyarakat. Sementara elemen kedua berkaitan dengan pangan yang diwujudkan melalui tradisi dhahar kembul (makan bersama). Kedua elemen tersebut dikemas para seniman yang berkolaborasi untuk mewujudkan sebuah pertunjukkan lintas disiplin.

“Busana, dalam hal ini busana Jawa, merupakan salah satu cerminan paling nyata dari interaksi antar budaya. Akulturasi menciptakan dorongan kepada kreasi baru untuk menyikapi keragaman yang saling mempengaruhi. Kami ingin menyuguhkan hal itu. Tajuk “PANGGIH” ini kami dudukkan sebagai representasi pertemuan lintas disiplin seni dan budaya yang khas terjadi di Yogyakarta,” ungkap Paksi Raras Alit, Ketua Umum FKY 2019.

Misalnya Nita Azhar, perancang busana dari Yogyakarta ini memajang karyanya yang merupakan hasil dari membaca ulang dan merekonstruksi busana laskar perang Jawa Diponegoro melalui sumber-sumber tertulis. Hasil rancangan busana tersebut dikenakan pada karya instalasi yang terbuat dari kerangka kerucut, yang melambangkan dari semesta menuju sang pencipta. Pada bagian kepala dari karya instalasi tersebut terbuat dari tanah liat, yang melambangkan asal muasa manusia dari tanah dan akan kembali ke tanah. Sementara untuk bagian tangan, dibuat dari ranting akar kopi, sebagai presentasi sarana dan alat untuk berkarya.

Kemudian sebagai pembaca narasi yang mengantarkan suguhan karya lintas disiplin ini dari babak demi babak, diserahkan pada Andy Sri Wahyudi yang malam itu berkostum kaos tipis putih, celana hitam, dan seikat padi yang dikenakan di kepala layaknya seperti wig. Naskah yang dibawakannya tersebut adalah hasil karya seorang penulis sekaligus aktor, Gunawan Maryanto.

Di bagian seni tari, tampil koreografer Anter Asmorotedjo bersama enam orang penari dari kelompok Anterdans yang tediri dari Olivia Tamara Dayastuti Wirid, Caprina Puspita, Nabila Rifani Rahmawati, Pinta Puspita Meilasari, Harin Setyandari, dan Rizka Yuana Putri. Suguhan karya mereka dihadirkan dengan iringan musik karya Danang Rajiv Setyadi.

Usai pertunjukkan tari yang melahirkan suasana indah sekaligus sakral tersebut, para penonton yang terdiri dari tamu undangan dan warga sekitar Tegalrejo, dihibur penampilan Umar Haen. Penyanyi dan petani asal Temanggung yang sudah meluncurkan album pertamanya ‘Gumam Sepertiga Malam’. Pada kesempatan tersebut, ia membawakan lima buah lagu yang erat hubungannya dengan kehidupan keseharian, seperti ‘Jogja Tempat Kita Belajar’, ‘Kisah Kampungku’, dan sebuah lagu dari GodBless berjudul ‘Rumah Kita’.

Pada bagian penutup acara, semua yang hadir di pertunjukkan program ini dipersilakan menikmati ‘sate kenemakanan ini terinspirasi dari sejarah Ratu Ageng Teglarejo, yang merupakan nenek Pangeran Diponegoro. Beliau mampu menciptakan kemandirian pangan dengan mengolah sumber daya alam yang melimpah.

Berbahan dasar lima hasil bumi utama Tegalrejo pada masa itu, ‘sate kene’ terdiri dari umbi-umbian (pala kependhem) yang berada di bagian paling bawah sate. Menyusul kemudian di bagian atasnya kue apem yang berasal dari beras, dilanjutkan panganan dari ketan, dan paling atas potongan pisang. Sate yang selain ditusuk juga dijepit dengan bambu ini kemudian dihidangkan di wadah dari daun pisang berteman cacahan nangka matang, diguyur santan kental dan sirup gula merah.

Hidangan ‘sate kene’ ini adalah hasil karya komunitas ‘Dapoer Bergerak’ yang mengolahnya secara live cooking selama pertunjukkan program ini. Secara garis besar, ‘sate kene’ melambangkan kemandirian yang dibangun dari pemahaman terhadap lingkungan sekitar, yang kemudian diolah untuk kepentingan bersama.

Menjelang pukul 21:00 WIB, seluruh rangkaian acara berakhir dan para pengunjung dipersilahkan mendatangi dua meja yang ada di pendopo Museum Monumen Pangeran Diponegoro untuk mendapatkan dan mencicipi ‘sate kene’ yang unik itu. Tak hanya itu, pengunjung juga memperoleh penjelasan seputar bahan, cara mengolah, dan makna hidangan tesebut.

OHTER POST

Respon Aksi Cepat Tanggap DIY Atasi Kekeringan

Yogyakarta (21/8). Sebagian be

...


Lebih dari 50ribu Mitra Gojek Se-Nusantara Rayakan HUT Ke-74 Kemerdekaan RI

Jogjakarta, 17 Agustus 2019 -

...


JOGJA CITY MALL KEMBALI HADIRKAN MILITARY EXPO

Menyambut dan merayakan Hari K

...


Qurban Kita Bahagiakan Mereka: Spesial Qurban Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Tidak semua orang dapat hidup

...