Hari ini : Sabtu, 14 Desember 2019

NEWS

NGAYOGJAZZ 2019 "Satu Nusa Satu Jazz-Nya"

“Ngayogjazz sebagai model atau wadah interaksi kebudayaan memberikan investasi kebudayaan, dan mengapresiasi sebuah konsep kebudayaan melalui music Jazz. Lokasi yang dipilih membuatnya menjadi suatu peristiwa kebudayaan. Peristiwa kebudayaan merupakan investasi kebudayaan itu sendiri. Manajemen organic Ngayogjazz yang membuat citra musik jazz menjadi akrab dengan siapapun sehingga dapat membuka kemungkinan ruang suara.” – Halim HD, budayawan.

“Ngayogjazz pertama di Kwagon itu tahun 2016 memberikan keuntungan imateriil dan materiil. Imateriilnya, bisa membuat orang senang. Warga senang, yang datang juga senang. Materiilnya tentu banyak juga, seperti ada tim kreatif yang menghias desa h-7 Ngayogjazz hingga kamar kecil yang berbayar sebab yang umum itu ya berbayar, kalau toilet yang tidak berbayar malah justru ora umum.” – Sukiman, Dukuh Kwagon.

Sabtu Kliwon, 16 November 2019 di Padukuhan Kwagon, Ds. Sidorejo, Godean, Sleman telah diselenggarakannya Ngayogjazz 2019 dengan mengusung tema “ SATU NUSA SATU JAZZ-NYA”. Terinspirasi dari lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” oleh L. Manik, Ngayogjazz ingin menunjukkan bahwa meskipun berbeda-beda namun kita tetaplah Indonesia dengan segala keragamannya. Seperti hal nya musik jazz yang dimainkan di berbagai daerah dan terdiri dari bermacam-macam alat musik, bila dipersatukan akan menghasilkan harmoni yang indah.

Ngayogjazz tentu saja tidak hanya sekedar konser music jazz. Atas berbagai dan kebersamaan mendasari pelaksanaannya. Konsisten tak berbayar, Ngayogjazz mengajak seluruh pengunjung yang hadir membawa buku sebagai pengganti tiket masuk. Program Lumbung Buku ini hasil kerja sama dengan Komunitas Jendela Jogja.

Selain itu kolaborasi dengan berbagai institusi dan komunitas senantiasa di bangun untuk menghadirkan pengalaman-pengalaman baru bagi pengunjung. Diantaranya dengan pusat kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, dan pusat kebudayaan Perancis, IFI-LIP. Lalu Perkumpulan Pekarya Layang-Layang Indonesia (PERKALIN) kali ini dengan programnya Kite For Kids, berbagai komunitas musik, komunitas fotografi, dan Festival Bambu Sleman.

Kolaborasi Ngayogjazz dengan Festival Bambu Sleman merupakan hasil kerja sama dengan Dinas Pariwisata Kab. Sleman, Asosiasi Sentra Bambu Sembada dan Dekranasda Kab. Sleman. Beragam kegiatan dilaksanakan mulai dari Workshop Bambu, Lomba Menganyam Bambu, stan pameran produk dan olahan bambu dan pentas kesenian tradisional. Festival Bambu Sleman sendiri merupakan wadah untuk mengekspos berbagai produk olahan bambu dari mebeler, kerajinan, hingga produk kuliner. Salah satu contohnya dengan menyediakan sedotan bambu di stan kuliner yang di kelola warga. Potensi bambu sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dianggap menguntungkan ini kemudian mencoba untuk dioptimalkan, baik dari hulu hingga hilir.

“I don’t know any other festival in Indonesia where so many volunteers are active, where so many communities are mobilized to establish this great event. And what is a better place to reach out to Indonesian artists than a festival like Ngayogjazz? Where so many bands and groups are performing and it’s so easy to connect to people.” – Joyce Nijssen, Deputy Director of Erasmus Huis.

Semua ‘Jamming session’ ini tentunya melengkapi kemeriahan Ngayogjazz 2019.

OHTER POST

Dispar Kota Yogyakarta Gandeng Dispar Kabupaten Badung, Tingkatkan Length of Stay Wisatawan

Dinas pariwisata Kota Yogyakar

...


Ineke Vandoorn & Marc Van Vugt Duo, Spesial kolaborasi bersama Purwanto KuaEtnika

Pemenang Grammy Belanda, Ineke

...


Indonesian Cactus and Succulent Festival 2019 Hadir di Sleman City Hall

Salah satu pusat perbelanjaan

...


Prudential Indonesia Berhasil Gaet Ribuan Pengunjung di Kemeriahan PRURide Indonesia 2019

Yogyakarta, 8 Desember 2019 -

...