Hari ini : Selasa, 25 Februari 2020

NEWS

Pameran Retrospeksi Dengan Tema Hidup Berkesenian, Klowor Edukasikan Pengarsipan Karya Lukis

Pameran pertamanya ada di tahun 1988 yang dilakukannya bersama berlima dengan kelompok kecil seniman yang dibuatnya. Pameran tersebut ditunjukkannya di Karya Pustaka. Ada support dari Pemerintahan Belanda untuk seni di Karta Pustaka. Selepas dari SMSR, Klowor Waldiyono ini melanjutkannya di ISI Yogyakarta. Baginya tidak ada hambatan untuk berkarya.

Tercatat semenjak itu Klowor Waldiyono telah melakukan 4 kali pameran. Pameran tunggal Klowor terwujud pertama kali pada tahun 1995 Putih Hitam, di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran tunggalnya diseleggarakan di Bentara Budaya tahun 2011 Siklus dan Sirkus Klowor, Taman Budaya Yogyakarta. Pameran ketiganya dilakukan tahun 2013 Colour(s) of Klowor, Gallery 58, Kemang, Jakarta. Tahun 2016, Klowor Waldyono menggelar pameran tunggalnya lagi di Terrestial Paradise, Liman Jawi Art House, Borobudur, Magelang. Lalu di tahun 2019 ini, Klowor Waldyono akhirnya memilih untuk mengadakan pameran retropeksi dengan tema “Hidup Berkesenian”

Sebagai pribadi yang meyakini jalur kesenian adalah pengabdian hidupnya, karya seni Klowor Waldyono telah diapreasi dengan beberapa penghargaan seni; 1989,- Lukisan Cat Minyak Terbaik (Pratita Adikarya) SMSR Yogyakarta. Sketsa Terbaik ISI Yogyakarta. 1990,- Lukisan Cat Minyak Terbaik ISI Yogyakarta. Sketsa Terbaik ISI Yogyakarta. 1991,- Lukisan Cat Minyak Terbaik ISI Yogyakarta. 1998 Finalis Philip Morris Art Award. 2000,- Finalis Philip Morris Art Award. 2003,- Finalis Indonesia Asean Art Award (IAAA). Finalis Indofood Art Award. 2011,- Pemenang UOB Painting of the Year.

Suatu yang menarik dari personal Klowor Wldyono dapat kita resapi melalui kata-kata yang diungkap oleh salah satu Pecinta Seni/Kolektor Indonesia dalam pengantar katalog pameran tunggalnya (Terrestial Paradise,- 2011) berupa; Saya melihat Klowor adalah seniman yang memiliki kemampuan teknik yang tinggi, kecerdasan dalam konsep dan ide, serta kebaikan hati. Perpaduan sempurna yang tidak dimiliki oleh semua seniman.

Setelah lebih dari 30 tahun ia berkarya, maka diputuskannya untuk melihat kilas balik perjalanan sebagai seorang seniman lukis mulai tahun 1985 hingga 2019. Seluruh karya lukisannya akan dipajang untuk memperlihatkan bagaimana perubahan gaya melukis dari sketch, hitam putih hingga warna-warna cerah yang menjadi ciri khas Klowor dalam menciptakan suatu karya. Apabila kita menelisik karya seni dan Klowor Waldyono, tampak jelas bahwa dia tidak terjebak pada “kecamuk” karya-karya seni rupa saat ini, yang riuh memainkan isu tentang ; nilai-nilai universalisme dan globalitas yang sajian marketnya menggiurkan. Karena banyak seniman memaksakan diri untuk tampil dengan pola “kekinian” yang akhirnya homogen (secara nilai), dan tidak memahami apa yang sedang mereka “kerjakan”.

Klowor Waldyono tidak terjebak dan menolak hal itu, karena dia telah membuat keputusan untuk memilih fokus dan intens meresapi nilai-nilai keseharian di lingkungan sekitarnya. Ungkapan yang seringkali dia ucapkan “Apapun itu, mari kita berfikir positif saja, dan terus berkarya”. Meresapi budaya lokal namun tetap bersosial secara universal. Keunikan metode/pola inilah kemudian yang dapat dikatakan sebagai “Glokalisme” di mana seseorang seniman, Klowor Waldyono meyakini “nilai-lokal” yang selalu bersentuhan dengan pribadinya adalah “keelokkan” yang dapat dia sampaikan, dia komunikasikan dan dia ekspresikan untuk semua orang (komunitas global) melalui karya seni-nya.

Selain untuk melihat kilas balik perjalanannya, pada pameran ini Klowor mengajak seniman atau penikmat seni, bahwa seni yang ada adalah untuk di nikmati, dirawat dan dijaga seperti apa yang telah dilakukannya. Tentu saja dalam hal ini Klowor tak sendirian, pengarsipan karya seninya juga dibantu oleh sang istri. Dalam press conference 16 Desember 2019 bertempat di Jogja Gallery, Jl. Pekapalan No. 7, Alun-Alun Utara, Yogyakarta ini nantinya Klowor akan berbagi cerita mengenai pentingnya mengarsipkan karya seni. Harapannya, pameran yang menunjukkan bahwa value dari sebuah karya itu jangan sampai hilang karena modernisasi.

OHTER POST

Famtrip Media Pariwisata Sleman

Daerah Istimewa Yogyakarta, te

...


New Uniform Launching, Bentuk Brand Identity Hotel Gaia Cosmo

Salah satu tempat penginapan h

...


Dinner Sepuasnya, Sambut Akhir Pekan di Harper Mangkubumi Yogyakarta

Salah satu tempat penginapan b

...


ACE HARTONO MENGGELAR POPCORN PARTY BIDIK KELUARGA

Salah satu pusat perbelanjaan

...