Hari ini : Sabtu, 17 April 2021

NEWS

Sosialisasi Prosedur dan Panduan Arsitektur Bangunan Baru di Kawasan Cagar Budaya

Kota Yogyakarta - Yogyakarta merupakan sebagai kultur cagar budaya, sebagai salah satu kota budaya nusantara.

"Daya tarik jogjakarta sebagai kota pendidikan dan kota budaya, yang menjadi harta karun kita. Nah kalau harta karun itu sudah jelas, itu yang menjadikan orang yang mau datang ke jogja. Orang mau membelanjakan uangnya tiap minggu, nginep minimal dua sampau tiga hari di jogjakarta, orang yang membelanjakan tiap hari untuk datang kesejumlah destinasi wisata, orang yang suka rela mengirimkan anak-anaknya ke jogjakarta, orang yang suka rela mencari kehidupan di jogjakarta selama lima tahun turis yang abadi kita itu ya mahasiswa itu". Drs. Haryadi Suyuti sebagai Wakil Kota Yogyakarta

Secara lebih rinci penerapan masing-masing gaya tersebut kedalam elemen bangunan adalah sebagai berikut:

 

Arsitektur tradisional jawa (KCB Kraton, KCB Pakualaman bagian utara, KCB Kotagede) dengan ketentuan:

 

a. Atap bangunan utama berbentuk kampung, limasan, tajug, joglo, dan/atau varian dari masing-masing bentuk tersebut.

b. Apabila menggunakan atap joglo, disyaratkan tidak berbentuk/bergaya atap joglo dari luar Daerah.

c. Atap tritisan dapat berupa atap miring tanpa konsol atau menggunakan konsol kayu/besi.

d. Gapura pagar tanpa atap berbentuk gapura canden.

e. Gapura pagar dengan atap berbentuk gapura limasan/joglo semar tinandhu.

f. Jika membangun bangunan baru dengan gaya arsitektur tradisional Jawa maka ada beberapa ornamen yang tidak boleh diterapkan yaitu Ornamen Sorotan, Praban dan Putri Mirong.

 

Panduan Umum Arsitektur Bangunan Bernuansa daerah di DIY yang berlaku untuk bangunan baru di semua Kawasan Cagar Budaya.

 

a. Atap bangunan utama berupa atap miring dengan bentuk menyesuaikan dengan masing-masing gaya arsitektur.

b. Atap bangunan pendukung menyesuaikan dengan atap bangunan utama.

c. Apabila bangunan pendukung menggunakan atap datar disyaratkan berbentuk pergola dari bahan kayu atau besi (bukan beton) dan tidak menempel/menyatu dengan bangunan utama.

d. Atap tritisan dapat berupa atap miring tanpa konsol atau menggunakan konsol kayu/besi.

e. Penutup atap bangunan utama menggunakan genteng bertile vlaam, plenthong atau kodhok dengan warna asli (tidak dicat/tidak diglasur) dengan bahan dari genteng tanah liat/gerabah.

f. Tidak direkomendasikan penutup atap dari genteng beton, asbes, polikarbonat, logam dan sejenisnya.

g. Penutup atap bangunan pendukung, direkomendasikan sama dengan bangunan utama. Apabila berbentuk pergola maka direkomendasikan menggunakan bahan yang transparan.

h. Apabila karena tuntutan kebutuhan konstruksi bentang lebar sehingga penutup atap harus menggunakan bahan logam dan sejenisnya yang ringan, disyaratkan berbentuk kepingan datar/rata, atau berbentuk gentang berwarna gelap, bertekstur, tidak mengkilap.

i. Penutup atap model lembaran gelombanh seperti seng, asbes dan sejenisnya tidak diperbolehkan, selain untuk atap tritisan.

j. Pintu berbentuk empat persegi panjang dengan daun pintu panel kayu, kombinasi panel dan krepyak, dan/atau kaca.

k. Jendela berbentuk empat persegi panjang dengan daun jendela panel kayu, kombinasi panel dan krepyak, dan/atau kaca.

l. Daun pintu/jendela dan rangka pinth/jendela diperkenankan menggunakan bahan aluminium/logam, dengan tetap menggunakan pola dan gaya arsiteksur Tradisional Jawa.

m. Tebeng di atas pintu/jendela yang kusennya menyatu dengan kusen pintu/jendela, dapat berupa kaca mati, kaca berbingkai dan/atau ornamen besi/kayu.

n. Apabila menggunakan Air Conditioning, maka tebeng yang berupa ornamen besi/kayu tersebut ditutup dengan bahan transparan.

o. Lisplang menggunakan papan kayu atau beton dengan lebar sekitar 20 cm.

p. Lisplang dimungkinkan lebih lebar dari 20 cm karena tuntutan proporsi/perbandingan ukuran lebar dan tinggi atap yang besar.

 

Panduan Khusus Arsitektur Bangunan Bernuansa daerah di DIY yang berlaku untuk bangunan baru di masing-masing Kawasan Cagar Budaya.

 

• KCB Kraton itu melingkupi kraton dan kawasan sepanjang sumbu filosofis yaitu kawasan sepanjang Pal Putih hingga Panggung Krapyak, adapun di kawasan Kraton bangunan baru yang dibangun memakai gaya arsitektur Tradisional Jawa, serta dimungkinkan memakai gaya arsitektur Indis; sedangkan di sub-kawasan Malioboro hingga Tugu Pal Putih memakai gaya arsitektur Indis atau Cina.

• KCB Pakualaman memakai gaya arsitektur Tradisional Jawa atau Indis;

• KCB Kotabaru memakai gaya arsitektur Indis/Kolonial;

• KCB Kotagede memakai gaya arsitektur Tradisional Jawa atau Indis;

 

Prosedur Rekomendasi Kebudayaan, dengan persyaratan sebagai berikut :

a. Fotokopi kartu tanda penduduk

b. Fotokopi sertifikat tanah lokasi bangunan akan didirikan atau diubah

c. Advice planning dari instansi perizinan Kabupaten / Kota

d. Gambar eksisting skalatis dan tematik yang meliputi gambar situasi, denah, tampak, potongan dan foto dari minimal 4 (empat) sisi bangunan

e. Gambar rencana skalatis dan tematik yang

f. Meliputi sekurang-kurangnya gambar situasi,

g. Denah, tampak, potongan, detail arsitektur,

h. Detail ornamen, struktur, bahan bangunan, warna.

OHTER POST

ARTJOG MMXXI: Arts in Common - Time (to) Wonder Akhirnya Digelar

Kondisi di Indonesia akibat pa

...


Buka Puasa 200 Item Menu Sepuasnya Hanya 98 Ribu di Harper Malioboro Yogyakarta.

Menyambut bulan suci ramadan 2

...


Archipelago Bergabung Dengan The Code Untuk Melindungi Anak-Anak

Jakarta - Archipelago Internat

...


Informa Electronics Lengkapi Pilihan Belanja di Jogja City Mall

Salah satu pusat perbelanjaan

...