Hari ini : Senin, 06 Desember 2021

NEWS

Diikuti 45 Kalurahan, Wawali Yogya Buka Festival Jogja Kota di Embung Giwangan

Kota Yogyakarta - Acara dimeriahkan berbagai pertunjukan seniman dan pekerja seni dari Yogyakarta. 45 kelurahan menggelar artwork berupa totem yg menggambarkan latar belakang sejarah seni budaya yg menjadi potensi dan keunikan masing2 wilayah. Dalam festival jogja kota juga menampilkan Singgih Sanjaya Orchestra Feat Om Wames, Satriya Ayodya Dance, Langen Carita, Bakiak Kreasi, Kroncong R Voice, Jathilan Urban feat DJ Pras, Voice AB dan MC Battle antara pemenang lomba pranatacara bersama Alit dan Trinil. 

 

Dalam kesempatan ini Wawali bersama Kepala Dinas Kebudayaan (disbud) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti menyerahkan hadiah bagi para pemenang lomba yang menjadi kegiatan dan rangkaian kegiatan dalam Festival Jogja Kota diantaranya Lomba Cipta Ilustrasi Musik, Penguatan Citra Budaya Kota Yogyakarta, Festival Permainan Rakyat dan festival sastra

 

Festival ini merupakan puncak dari serangkaian kegiatan budaya yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta dalam rangka pelestarian, pengembangan dan pembinaan kebudayaan di wilayah Kota Yogyakarta.

 

Wawali Yogya dalam sambutannya mengungkapkan Yogyakarta mempunyai berbagai bentuk festival, termasuk festival budaya. Gelaran festival kali ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan pada seluruh potensi kemantren Kota Yogyakarta khususnya untuk bisa tampil menunjukkan karakternya.

 

"Kita patut bangga bangga menjadikan untuk menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan kita. Juga bagian dari ekspresi seni budaya dan kekuatan tak kasat mata atau kekuatan tak benda yang memang dimiliki yogyakarta," ungkapnya.

 

Menurut Heroe, Kota Yogyakarta tidak memiliki sumber daya alam (SDA) seperti daerah lain maupun sumber daya hutan. Namun kota ini memiliki sumber daya manusia (SDM) yang sangat potensial untuk dikembangkan kreativitasnya.

 

Keberadaan SDM tidak akan pernah kering bila diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi potensi-potensinya. Karenanya gerakan program "Gandes Luwes" terus dilaksanakan untuk mengajak masyarakat Kota Yogyakarta menekuni segala sesuatu yang berbau seni dan budaya .

 

"Sumber daya manusia inil berbeda dengan sumber daya alam dan hutan. Sumber daya alam jika dieksploitasi akan cepat habis dan hilang, tetapi jika sumber daya manusia jika kita eksploitasi akan semakin kuat dan benar dan semakin membuat banyak kreativitas pembentuk sumber daya manusia. Setiap anak yang lulus SD harus bisa melakukan atau menyanyikan tembang atau menarikan tarian tertentu. Anak SMP juga begitu, bisa nari Nembang, juga bisa bermain musik gamelan dan segala macamnya," paparnya.

 

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti mengungkapkan 

pandemi Covid-19 memberikan dampak yang sangat besar bagi sendi-sendi kehidupan manusia, tak terkecuali dalam aspek kebudayaan. Tanpa disadari , situasi pandemi menjadi realitas sosial-kultural yang mengubah cara pandang dan pendekatan kita terhadap aktivitas kebudayaan. 

 

“Kenormalan baru yang kemudian kita terima sebagai bagian dari cara hidup, telah menciptakan kebaruan-kebaruan dalam cara kita berkebudayaan. Situasi ini harus kita tangkap sebagai momentum untuk merumuskan ulang strategi pemajuan kebudayaan, khususnya di wilayah Kota Yogyakarta," ungkapnya.

 

Yetti menjelaskan, Festival Jogja Kota Tahun 2021 ini menjadi salah satu ikhtiar Pemerintah Kota Yogyakarta untuk beradaptasi terhadap transformasi kebudayaan yang sangat dinamis. Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta bersama-sama dengan pelaku budaya dan masyarakat berkolaborasi untuk menghadirkan kembali ruang-ruang kebudayaan selama masa pandemi.

 

Terselenggaranya Festival Jogja Kota menjadi bukti bahwa semangat

kebudayaan masyarakat Kota Yogyakarta tidak pernah berhenti. Sajian

karya seni budaya yang dipertunjukan di sepanjang Embung Giwangan

ini adalah sebuah ekspresi budaya yang lahir dari kesadaran atas

indentitas kebudayaan Kota Yogyakarta di satu pihak, dan sikap adaptif

terhadap konteks situasi zaman di pihak lain. 

 

"Bukti konkret dari realitas ini dapat kita saksikan melalui representasi karya budaya dalam wujud totem yang direkonstruksi dari penggalian sejarah dan identitas kampung di 45 kelurahan Kota Yogyakarta," jelasnya.

 

Festival Jogja Kota ini menampilkan sajian seni budaya yang bukan hanya berpijak pada warisan tradisi melainkan juga sentuhan-sentuhan kreasi yang

menjadikan kebudayaan lebih kontekstual untuk diterima antar generasi.

Festival Jogja Kota juga menjadi ajang pementasan para pelaku seni yang sebelumnya menorehkan prestasi dalam berbagai ajang perlombaan kebudayaan baik di tingkat kota maupun provinsi.

 

"Semoga festival ini menjadi pelecut semangat bagi kita semua untuk

bersama-sama memajukan kebudayaan Kota Yogyakarta," ungkapnya.

OHTER POST

Ngayogjazz 2021 : Tetap Ngejazz di Desa Lan Waspada

Digelar pertama di tahun 2007,

...


SEGARA ; /se.ga.ra/ Pameran Tunggal Hani Santana

Berkenalan Secara Tidak Sengaj

...


Race and Rise 2021 Bersama GMEDIA

Event sport pertama yang disel

...