Hari ini : Senin, 15 Desember 2025

NEWS

"Danyang Wingit Jumat Kliwon", Horor Pedalangan Jawa yang Angkat Mitos Lokal ke Layar Lebar

Yogyakarta, 21 November 2025– Layar horor Indonesia kembali kedatangan pendatang baru lewat film “Danyang Wingit Jumat Kliwon” garapan Khanza Film Entertainment.

Film yang berlatar dunia pedalangan Jawa ini menggelar mini gala premiere di XXI Jogja City Mall, Yogyakarta, pada Kamis (20/11/2025) dan langsung memantik antusiasme penonton. 

Film ini disutradarai sekaligus diproduseri Agus Riyanto dengan naskah karya Dirmawan Hatta. Mengusung horor okultisme yang berakar pada tradisi lokal, “Danyang Wingit Jumat Kliwon” tidak hanya mengandalkan jump scare, tetapi memadukan ritual, pusaka, dan mitos danyang dengan drama psikologis tentang harga sebuah ambisi manusia.

Agus mengungkapkan, ide cerita berangkat dari kisah masyarakat di Dusun Gendakan di lereng Gunung Merbabu, tentang seorang sinden yang nasibnya berakhir tragis hingga kulitnya dikisahkan dijadikan wayang kulit.

Riset untuk mengolah kisah ini ke dalam bentuk film disebutnya memakan waktu sekitar satu tahun. “Lewat karya ini, kami ingin menyampaikan pesan agar jangan sampai melupakan budaya,” ujar Agus, menegaskan bahwa budaya adalah warisan leluhur yang harus terus dijaga.

Secara cerita, film ini berpusat pada sosok Ki Mangun Suroto (Whani Darmawan), dalang karismatik yang mengejar hidup abadi melalui ritual terlarang. Di tahun 2021, Citra (Celine Evangelista), keponakan Mbok Ning (Djenar Maesa Ayu) yang menjadi asisten setia Ki Mangun, direkrut sebagai sinden baru di padepokan. 

Tanpa sepengetahuannya, Citra justru disiapkan sebagai tumbal terakhir dalam ritual keabadian tersebut. Demi upah yang diharapkan bisa membantu pengobatan sang adik, Dewi (Aisyah Kanza), Citra memilih bertahan meski mulai diteror kejadian-kejadian gaib.

Di sisi lain, Bara (Fajar Nugra), salah satu penjaga padepokan, mencium adanya kejanggalan dan menaruh curiga pada sang majikan. Alih-alih diam, ia memilih melawan, berusaha menyelamatkan Citra dari rencana kelam Ki Mangun. 

Ketegangan mengerucut ketika mereka berpacu dengan waktu menuju puncak ritual saat Gerhana Bulan Merah yang bertepatan dengan malam keramat Jumat Kliwon, menjadikan film ini bukan hanya soal sosok makhluk tak kasat mata, tetapi juga soal keputusan-keputusan manusia yang rapuh dan mudah dibutakan ambisi.

Deretan pemain “Danyang Wingit Jumat Kliwon” diisi nama-nama yang akrab di genre horor. Selain Celine Evangelista, Fajar Nugra, Whani Darmawan, Djenar Maesa Ayu, dan Aisyah Kanza, film ini juga diperkuat Nathalie Holscher sebagai Putri Kusuma Ratih, bersama Norma Cinta, Dimas Tedjo, Putri Maya Rumanti, Angga Wijaya, Keona Cinta, dan Bilqis Hafsa.


Agus menegaskan bahwa horor yang ingin ia hadirkan bukan sekadar parade hantu menakutkan. “Saya tidak ingin hanya menampilkan hantu berwajah seram. Karena yang jauh lebih menakutkan adalah sifat jahat manusia,” tegasnya, menekankan bahwa film ini juga mengkritik kerakusan dan keinginan menghalalkan segala cara demi kekuasaan dan keabadian.

Sebagai pemeran utama, Celine Evangelista mengaku harus melakukan persiapan khusus untuk memerankan Citra, terutama karena karakternya bersentuhan erat dengan dunia seni tradisi. Ia menonton langsung pertunjukan wayang, melakukan riset mengenai dunia sinden dan nembang, serta menjalani latihan intensif bersama pelatih akting. 

“Saya menonton pertunjukan wayang secara langsung dan riset dari banyak aspek, karena nembang itu tidak mudah,” ujar Celine, seraya berharap film ini dapat membuat penonton lebih peduli pada kesenian tradisional Jawa.

Dengan kombinasi mitos Jawa, nuansa ritual yang kental, serta konflik psikologis antara ambisi dan nurani, “Danyang Wingit Jumat Kliwon” hadir sebagai tawaran horor lokal yang tidak hanya mengejutkan, tetapi juga mengajak penonton merenungkan kembali hubungan manusia dengan warisan budayanya.

OHTER POST