Sebagai musisi yang bertanggung jawab penuh, Hunian yang juga sebagai kolektif merilis album debut pertama yang berjudul ‘Untuk Perjalanan’. Band yang berasal dari Yogyakarta ini, memaknai album studio yang berisi 10 lagu sebagai nilai-nilai kontemplasi dalam hidup yang dijalani dalam beberapa tahun terakhir. Agar tidak menjadi sebuah kehampaan, album yang telah dikerjakan lebih dari satu tahun ini diberikan nyawa.
Ghozi Daffa, Elang Nuraga, Anshar Aziz (Ancal), atau selanjutnya disebut Hunian, mengerjakan album yang berisi 10 lagu ini dengan secara jujur. Hunian percaya bahwa jika suatu karya dikerjakan secara matang-matang, penuh tanggung jawab, dan genuine, karya itu penuh akan nilai. Seperti cara memilih judul album ‘Untuk Perjalanan’, Hunian seperti memaknai sebuah proses yang dilakukan seorang.
“Saat menulis lirik untuk album ini, saya berusaha memotret perasaan manusia yang seringkali tidak terucap. Saya ingin kata-kata di dalamnya terasa jujur,” kata Ghozi.
“Seperti sedang bercerita kepada diri sendiri. Ini adalah tentang bagaimana kita berdamai dengan proses dan tetap berjalan meski hari terasa melelahkan,” ia menambahkan.
Proses yang berlangsung dari lahir, hidup, sampai mati itu akan selalu ada di agenda perjalanan seseorang. Bagaimana seseorang menghadapi masalah, berhasil, dan bahkan tidak menjadi apa-apa dituang dalam album yang akan dirilis pada tanggal 29 April 2026 ini. Bukannya sok sentimental, melalui ‘Untuk Perjalanan’, Hunian ingin bisa merasa lebih dekat dengan pendengarnya.
Perumpamaan melankolis itu juga berkaitan dengan teknis dalam isian gitar Elang dan Ancal. Pengalaman bertahun-tahun mereka sebagai gitaris berhasil menerjemahkan suara yang emosional. Melodi-melodi yang mewakili perasaan yang intim atau kerapuhan dalam larik-larik lirik di setiap lagu.
"Ada bagian gitar yang saya isi dengan sangat sederhana agar pesannya sampai, dan ada yang lebih emosional,” Elang mengatakan.
“Bagi saya, gitar di album ini harus bisa menjadi teman bicara bagi pendengar, terutama bagi mereka yang sedang melewati hari-hari berat,” tambahnya.
Album Pertama
Melihat dari sisi musisi atau band, sebuah album itu bagai foto wisuda yang dipajang di ruang tamu di sebuah rumah, membanggakan, haru, dan penuh kenangan. Perasaan itulah yang juga dirasakan Elang dan Ancal sebagai musisi yang pertama kali memproduksi dan merilis album pertamanya. Sebelumnya, Elang bersama The Finest Tree hanya memproduksi beberapa single, lalu kemudian disusul EP. Kemudian Ancal bersama Kazzmir dan KRANS juga hanya memproduksi EP dan beberapa single saja.
“Album pertama menurut saya pribadi pastinya sangat berkesan karena termasuk salah satu wishlist dalam pengalaman juga pencapaian berkarier di musik,” jelas Elang.
Gitaris sesi Sheila On 7 itu juga menambahkan bahwa sebuah album itu menurutnya sangat esensial untuk sebuah band. Karena di dalam album itu terdapat materi-materi yang bisa mendefinisikan sebuah band itu sendiri. Hematnya juga, sebuah album itu bisa menjadi sebuah buku petunjuk untuk para pendengar jika ingin memahami musik dari band itu sendiri.
“Kenapa album dalam sebuah karya itu penting, menurut saya, karena pendengar bisa merasakan vibes dan warna sebuah band secara utuh, sekaligus dari segi lirik di dalam album pendengar juga dapat menilai sudut pandang dalam menangkap sebuah mindset yang dihasilkan dalam sebuah karya band tersebut secara keseluruhan,” tambahnya.
Perasaan haru dirasakan oleh Ancal karena proses produksi dari hulu ke hilir untuk album ini menjadi yang pertama untuknya dan yang paling panjang. Terlebih lagi, umur Hunian sendiri juga belum memiliki jam terbang tinggi. Hal itu menjadi upaya yang tidak mudah untuk menyelaraskan ikatan emosional para member dan teknis produksi.
“Berhubung ini album pertama yang saya proses dari nol, sangat menyenangkan, terharu, semua perasaan jadi satu, karena pertanggungjawaban yang cukup kompleks. Mulai dari produksi, di mana kami memulai menata musik, dan masuk studio rekaman tepat setahun yang lalu di 2025,” Ancal menjelaskan.
“Tantangan membuat album memang sangat melelahkan, tapi semoga karya dari 10 lagu Hunian ini bisa mengena untuk para pendengar semua, karena di setiap lagu kami memiliki sebuah pesan yang kami rasakan,” lanjutnya.
Tetapi hal yang berbeda dirasakan oleh Ghozi, ia lebih dulu memproduksi album pertamanya bersama The Halfseason. Band yang lebih dulu dibentuknya itu telah merilis album studio pada tahun 2023 lalu.
Ketika berada di Hunian yang ia sebut juga rumah ini, pria asal Gunungkidul itu bisa menjadi seseorang yang penuh, tentunya berkat keberadaan Ancal dan Elang yang saling melengkapi. Menurutnya, dengan berproses bersama mereka, mekanisme kreatif yang terjadi menjadi lebih dewasa.
“Album ini rasanya seperti pulang ke rumah dengan cerita yang lebih matang. Proses bersama Hunian punya energi yang berbeda. Album ini tetap punya 'nyawa' yang spesial,” Ghozi menuturkan.
“Saya justru banyak belajar dari kacamata Elang dan Ancal yang melihat album ini sebagai sebuah perayaan besar. Ada kepuasan tersendiri melihat semangat teman-teman, dan saya senang bisa melengkapi kepingan puzzle itu di album ini,” tambahnya.
“Album ini adalah bukti pendewasaan musik kami bertiga yang diramu dengan perspektif yang lebih luas.”
Adam Subarkah
Tidak hanya bertiga, Hunian menyelesaikan ‘Untuk Perjalanan’ ini juga dibantu oleh beberapa musisi yang sering membersamai mereka. Salah satunya adalah Adam Subarkah yang turut mengisi seksi bass dalam lagu ‘Berlayar’. Bassis Sheila On 7 ini juga sangat menerima ajakan kolaborasi, ditambah ia juga cukup senang ketika dilibatkan dalam proses kreatifnya.
“Diajakin sama Hunian, untuk ngisi bass di lagu mereka yang ‘Berlayar’. Lagunya saya suka. Mereka juga benar-benar membebaskan,” Adam bercerita.
Ketika dilibatkan dalam proses kreatif pembuatan track ke-6 itu, Adam tak enggan dalam menerima pendapat dari Hunian. Karena memang sudah tertarik sejak awal saat mendengarkan materinya, proses eksekusi di studio pun diselesaikan tidak begitu lama.
“Kalau saya justru malah menanyakan, mereka pengennya seperti apa. Apakah akan berdinamika atau rata dari awal sampai akhir. Jadi semoga sesuai dengan harapan dari teman-teman Hunian,” tandasnya.
Ramdhan Brothers
Sebelumnya, ketika menyelesaikan lagu ‘Suara-Suara’, Hunian juga berkolaborasi dengan drummer sesi Sheila On 7, Bounty Ramdhan. Dalam lagu tersebut, Bounty berhasil menambahkan tabuhan drum yang intens, berenergi, dan mempunyai dinamika tersendiri.
“Awal prosesnya simple, Elang ngajak ngisi (drum) dan aku pengen support. Aku pengen terlibat dalam suatu movement yang dibangun oleh Hunian,” kata Bounty.
Lalu ketika ‘Suara-Suara’ dirilis versi single pada 2025 lalu, sang adik dari Bounty, yaitu Anaking Ramdhan, terlibat dalam pengerjaan artwork untuk ‘Suara-Suara’. Juga, hasil karya dari Anaking itu dirilis sebagai merchandise berbentuk T-shirt.
Sampul Album
Kemudian, jika berbicara tentang hal yang terpenting dari sebuah album musik, maka sampul album adalah salah satunya. Seorang desainer grafis beraliran pop, Pandu Saputra, dipercayakan oleh Hunian untuk menyusun sampul album yang syarat akan makna ini. Menurut penuturan Pandu, ia hanya membayangkan sesuatu yang sederhana namun ada di sekitar saat akan membuat konsep awal dari gambar sampulnya.
“Aku langsung kepikiran soal 'titik berangkat'. Konsepnya sederhana tapi bermakna, dengan foto mereka di depan pagar sebagai simbol keberangkatan. Dari mana pun asal mereka, meski mereka bertiga berasal dari background musik yang berbeda, langkah pertama dari perjalanan mereka tetap sama: begitu keluar dari halaman rumah,” kata Pandu
Simbol sebuah rumah juga diimplementasikan oleh Pandu ketika menggambar logo Hunian yang terdapat di sampul album. Sentuhan-sentuhan emosional juga diterapkan saat memilih warna untuk sentuhan nuansa nostalgia pada foto.
“Sebagai awal perjalanan mereka berangkat dari 'rumah' untuk logonya versi album ini terinspirasi dari siluet rumah yang kita kenal. Tapi bentuk itu diputar jadi vertikal. Simple shift, tapi maknanya berubah jadi penunjuk arah "Untuk Perjalanan" ini,” imbuhnya.
“Gradasi warna Oranye jadi pilihan utama dengan sedikit sentuhan gradasi, karena pengen dapet kesan nyaman dan nostalgic tapi tetep berenergi.”
Terima Kasih Kepada
Hunian juga melibatkan beberapa musisi yang ikut melengkapi. Dibantu oleh Denting Sanitya Merdu (penyanyi latar), Audira Putri (penyanyi latar), Wedhar Pranata Jati (penyanyi latar), Zikri Aufarrahman (bass), Risky Alan (drum), dan Elkado Pamor (keyboard & synth). Keseluruhan lagu ini diselaraskan akhir oleh Ardha Buzzbanditz di Neverland Studio dan juga sempat dikerjakan di Lahaneross.