Yogyakarta - Perupa William Robert kembali menggelar pameran tunggalnya di Yogyakarta, setelah pada tahun 2025 ia menghadirkan pameran tunggal bertajuk Tiang Horisontal di Bentara Budaya Yogyakarta.
Perupa berdarah Ambon yang lahir di Medan, Sumatera Utara ini mengangkat tema PELA untuk mengeksplorasi narasi yang ia gali dari pengalaman empiriknya hidup dalam penempaan di tanah Jawa, yang sering ia istilahkan sebagai "Ufuk Barat "

Lahir dari keluarga yang memang kental darah seninya, ia telah melewati perjalanan panjang. Sebut saja ketika ia mulai serius melihat seni rupa sebagai pilihan hidup, ia pernah tinggal di Bandung, lalu sempat juga mulai mengenal Ubud, Bali di era tahun 1989 - 1990, dan kemudian ia kerap ke Yogyakarta ia anggap dan sadari sebagai medan penampaan yang sangat dinamis.
Saat mulai mengenal Pasar Seni Ancol, Gelanggang Remaja Jakarta Selatan Bulungan, hingga sering mampir ke Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Sanggar Rangga Gempol, ia perlahan makin yakin akan pilihannya. Pun ketika ia mulai mengenal banyak perupa di Yogyakarta, hingga Bali.

Karya drawingnya cukup banyak dihasilkan saat ia mulai belajar tentang Tribal Art di sebuah yayasan di Bandung. Bahkan William Robert pada tahun 1992 pernah menunjukan karya-karya drawingnya tsb ke Drs. Sudarmadji, seorang kritikus seni rupa kenamaan Indonesia.
Dalam momen perjumpaan tsb, sang kritikus memberi catatan kepada William Robert bahwa, " lukisan topengmu sudah lumayan baik. Tak karya bagus itu adalah karya yang terhubung dengan pengalaman empirik pembuatnya. "
Catatan itu kembali mulai ia implementasikan dalam 4 pameran tunggal sebelumnya, yaitu :
•â â Melewati Hitam Melalui Putih
•â â Jendela Seribu Pintu
•â â Tiang Horisontal
•â â PELA
Perupa yang juga sempat aktif sebagai penata artistik panggung musik, mendisain cover CD dan kaset beberapa penyanyi, juga menjadi art director beberapa rumah seni ini menampilkan tujuh buah karya mutakhirnya.

Karya-karya yang ia tampilkan kali ini ia ciptakan untuk bisa sedikit banyak mengekspresikan pengalaman empiriknya mengalami penempaan di Ufuk Barat.
Perjumpaan dengan begitu banyak insan seni rupa dalam kurun hampir empat dekade ini tentu menjadi catatan tersendiri yang begitu berharga, yang menghantarkan dirinya hingga pencapaian hari ini, dan sangat ia yakini akan terus ada hingga perjalanan penempaan berikutnya.
Baginya penempaan itu tidak akan pernah berhenti dalam setiap langkah yang terus ia ambil.
Banyak hal yang tak pernah habis digali memperkaya kehidupan.
Dan dengan spirit Pela yang ia serap dari kakek neneknya, kedua orang tuanya juga lingkungan masa kecil, remaja, dewasa hingga saat ini William Robert menyikapi dengan menyakini semua proses penempaan dalam hidup adalah juga sebagai kasih tanpa syarat dari banyak orang menjadi bagian dalam tiap tahap pembentukan dirinya seterusnya, bahkan dalam perjumpaan yang tak pernah ia rencanakan.
Ia yakini sebagai skenario Yang Maha Kuasa. Ia tak lupa dengan tanah leluhurnya, saat besar jauh dari kampung halamannya. Iapun begitu menghargai semua gurunya yang mengajarkan banyak hal dengan kebaikan dan ketulusan. Maka lahirlah karya berjudul Guru Guru Manise.
Tak pernah mau muluk dalam hidupnya, tapi dalam hati kecilnya tetap berusaha bahwa seberapapun itu, kiranya apa yang ia hadir sepanjang hidupnya bisa memberi arti, karya berjudul Menanda Dengan Tonggak Kecil mencoba mengekspresikan hal ini.
Dan ada beberapa karya lagi yang ia hadir untuk melengkapi atau menyampaikan tentang PELA dalam pameran tunggal ke 20 seorang William Robert.
Selamat mengapresiasi pameran yang berlangsung mulai 17 hingga 31 Oktober 2026 ini.